Keterampilan Berbahasa




KETERAMPILAN BERBAHASA
D

I

S

U

S

U

N

OLEH

NAMA                        : LIBERTINA HULU

N I M                          : 20170201009
                                     
PROGRAM STUDI  : PAK

MATA KULIAH       : BAHASA INDONESIA

 



SEKOLAH TINGGI TEOLOGI BNKP SUNDERMANN GUNUNSITOLI
T A 2017/2018



KATA PENGANTAR

Puji  dan  syukur  kita  panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan anugerah-Nya kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan judul “Keterampilan Berbahasa”.

Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.

 Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia. Kami tahu dalam pembuatan makalah ini ada banyak kekurangan dan kelemahan didalamnya,  maka kami mohon maaf apabila ada kesalahan pembuatan dalam makalah ini, dan kiranya dapat dimaklumi. Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat untuk pengetahuan kita semua. Untuk tercapainya kesempurnaan makalah ini. Kami memohon kritik, saran, dan komentar dari Dosen Pengampu Bahasa Indonesia dan teman-teman yang membacanya.

Akhir katas saya ucapkan terima kasih. Ya’ahowu.
                                                                           
                                                                           
                                                                                 Gunungsitoli,  6 Desember 2017
 

                                                                                    


                                                                                 


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari kegiatan berbahasa. Bahasa merupakan sarana untuk berkomunikasi antar manusia. Bahasa sebagai alat komunikasi ini, dalam rangka memenuhi sifat manusia sebagai makluk social yang perlu berinteraksi dengan sesama manusia . bahasa dianggap sebagai alat yang paling sempurna dan mampu membawakan pikiran.
Keterampilan berbahsa terdiri dari empat aspek. yaitu Menyimak atau Mendengarkan, Berbicara, Membaca, Dan Menulis. Mahasiswa harus menguasai ke empat aspek tersebut agar terampil berbahasa. Dengan demikian, pembelajaran Keterampilan Berbahasa dikampus tidak hanya menekankan kepada teori saja, tetapi mahasiswa ditutut untuk mampu menggunakan bahasa sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi. Salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai oleh mahasiswa adalah berbicara, sebab keterampilan menunjang keterampilan lainnya.

B.  Rumusan masalah
1.    Apa pengertian Keterampilan Berbahasa?
2.    Apa pengertian Batasan Membaca?
3.    Apa contoh teks Keterampilan Berbahasa?

C.  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah bahasa Indonesia, serta untuk menambah wawasan kami dan untuk mengetahui pemahaman tentang Keterampilan Berbahsa.



BAB II
ISI


A.  Pengertian Keterampilan Berbahasa
Menurut Dr. Sunarti, M.Pd, Deri Anggraini, M.Pd dalam buku ‘‘Tampilan Bahasa Indonesia’’Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang penting untuk dikuasai setiap orang. Dalam suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Keterampilan Berbahasa adalah salah satu unsur penting yang menentukan kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.
1.    Hubungan antara Berbicara dan Menyimak
a.    Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi). Oleh karena itu, contoh atau model yang disimak serta direkam oleh anak sangat penting dalam penguasaan kecakapan berbicara.
b.    Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajari oleh anak biasanya ditentukan oleh perangsang (stimulasi) yang mereka temui (misalnya kehidupan desa><kota) dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam menyampaikan ide-ide mereka.
c.    Ujaran anak mencerminkan pemakaian bahasa dirumah dan dalam masnyarakat tempatnya hidup ; misalnya : ucapan, intonasi, kosakata, penggunaan kata-kata, dan pola-pola kalimat.
d.   Anak yang lebih mudah lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit daripada kalimat-kalimat yang diucapkannya.
e.    Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningakatkan kualitas berbicara seseorang.
f.     Bunyi atau suara merupakan suatu factor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata anak. Oleh karena itu, anak akan tertolong kalau mereka  mendergarkan/menyimak ujaran-ujaran yang baik dari pada guru, rekaman-rekaman yang bermutu, dan cerita-cerita yang bernilai tinggi.
g.    Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan mengahasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak menyimak.

2.    Hubungan antara Menyimak dan Membaca
a.    Pengajaran serta petunjuk-petujuk dalam membaca diberikan oleh guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan anak untuk menyimak dengan pemahaman penting sekali.
b.    Menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (verbalized learning) selama tahun-tahun permulaan di sekolah.
c.    Walaupun menyimak pemahaman (listening comprehension) lebih unggul dari pada membaca pemahaman (reading comprehension), anak-anak sering gagal untuk memahaminya dan tetap menyimpan/memakai/mengusai sejumlah fakta yang mereka dengar.
d.   Oleh karena itu, para pelajar membutuhkan bimbingan dalam belajar menyimak lebih efektif dan lebih teratur lagi agar hasil pengajaran itu baik.
e.    Kosa kata atu pemberdaharaan kata menyimak yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.
f.     Bagi para pelajar yang lebih besar atau tinggi kelasnya, kolerasi antara kosa kata baca dan kosa kata simak (reading covabulary) dan (listening vocabulary) sangat tinggi, mungkin 80% atau lebih.
g.    Pembeda-bedaan atau diskriminasi pendengaran yang jelek acapkali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu faktor tambahan dalam ketidakmampuan dalam membaca (poor reading).
h.    Menyimak turut membantu anak untuk manangkap ide utama yang diajukan oleh pembicara ; bagi pelajar yang lebih tinggi kelasnya, membaca lebih unggul dari pada menyimak sesuatu yang mendadak dan pemahaman informasi yang terperinci.

3.    Hubungan antara Berbicara dan Membaca
a.    Performansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan
b.    Pola-pola ujaran yang tuna aksara atau buta huruf mungkin sekali mengganggu pelajaran membaca bagi anak-anak
c.    Pada tahun-tahun permulaan sekolah, ujaran membentuk suatu dasar bagi pelajaran membaca, maka membaca bagi anak-anak yang lebih tinggi kelasnya turut membantu meningkatkan bahasa lisan mereka; misalnya: kesadaran lingusitik mereka terhadap kata-kata baru atau istilah-istilah baru, struktur kalimat yang baik dan efektif, serta penggunaan kata-kata yang tepat.
d.   Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung. Andai kata muncul kata-kata baru dalam buku bacaan siswa, maka hendaklah sang guru mendiskusikannya dengan siswa agar mereka memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.

4.    Hubungan antara Ekspresi Lisan dan Ekspresi Tulis
a.    Seorang anak belajar berbicara jauh sebelum dia dapat menulis dan kosakata, pola-pola kalimat, serta organisasi ide-ide yang memberi ciri kepada ujarannya merupakan dasar bagi ekspresi tulis berikutnya.
b.    Seorang anak yang telah dapat menulis dengan lancar, biasanya dapat pula menuliskan pengalaman-pengalaman pertamanya secara tepat tanpa diskusi lisan pendahuluan tetapi dia masih perlu membicarakan ide-ide rumit yang diperolehnya dari tangan kedua. Bila seorang anak harus menulis suatu uraian, menjelaskan suatu proses, ataupun melaporkan suatu kejadian sejarah (yang secara pribadi belum pernah dialaminya), maka dia mengambil pelajaran dari suatu diskusi kelompok pendahuluan. Dengan demikian, dia dapat mempercerah pikirannya, mengisi kekosongan-kekosongan, memperbaiki kesan-kesan yang keliru, serta mengatur ide-idenya sebelum dia menulis sesuatu.
c.    Aneka perbedaan pun terdapat antara komunikasi lisan dan tulis. Ekspresi lisan cenderung ke arah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetap, tetapi biasanya lebih kacau serta membingungkan daripada ekspresi tulis. Kebanyakan pidato atau pembicaraan bersifat informal, dan sering kali kalimat-kalimat orang yang berpidato atau yang berbicara itu tidak ada hubungannya satu sama lain. Sang pembicara memikirkan ide-idenya sambil berbicara dan kerap kali dia lupa bagaimana terjadinya suatu kalimat, lama sebelum dia menyelesaikannya.
d.   Membuat catatan serta merakit bagan atau kerangka ide-ide yang akan disampaikan pada suatu pembicaraan akan menolong para siswa untuk mengutarakan ide-ide tersebut kepada para pendengar. Para siswa harus belajar berbicara dari catatan-catatan dan mereka membutuhkan banyak latihan berbicara dari catatan agar penyajiannya jangan terputus-putus dan tertegun-tegun. Biasanya bagan yang dipakai sebagai pedoman dalam berbicara sudah cukup memadai kecuali dalam kasus laporan formal dan terperinci yang memerlukan penulisan naskah yang lengkap sebelumnya.





BAB III
PEMBAHASAN

A.  Contoh Video











BAB IV
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Jadi, dari uraian tadi menjelaskan bahwa hubungan antar Keterampilan Berbahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari kenyataan bahwa kita setiap hari tidak terlepas dari kegiatan Menyimak, Berbicara, Membaca dan Menulis. Keterampilan Berbahasa merupakan hal yang penting bagi seorang pelajar khususnya, karena dengan menguasai Keterampilan Berbahasa seseorang akan lebih mudah dalam menangkap pelajaran dan memahami suatu maksud. Tarigan membagi keterampilan berbahasa menjadi empat aspek, yaitu :
a.      Keterampilan Membaca
b.      Keterampilan Menyimak
c.      Keterampilan Berbicara
d.      Keterampilan Menulis

Dengan menguasai Keterampilan Berbahasa yang meliputi empat aspek diatas, kita akan mampu bersikap dan bertindak ilmiah, yang mana hal tersebut bagi kaum terpelajar sangat penting untuk dimiliki.

Mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada dalam Keterampilan Berbahasa akan memberikan motivasi kepada kita untuk mempelajari solusi dari permasalahan tersebut untuk menutupi kekurangan yang ada.

B.  Saran
Dalam penyusunan makalah ini kami mengharapkan agar pembaca berkenan menyampaikan kekurangan-kekurangan yang ada dalam makalah ini, serta memberikan saran dan masukan atas kekurangan tersebut. Kritik dan saran yang pembaca ajukan akan kami jadikan sebagai bahan perbaikan untuk penyusunan makalah yang selanjutnya, agar tidak terjadi kesalahan yang sama lagi.





DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung.

Sunarti, dkk. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta.



Komentar

Postingan populer dari blog ini